Protein adalah nutrisi penting untuk kesehatan. Salah satu cara
memenuhi kebutuhan protein adalah dengan mengonsumsi daging, namun
langkah ini tidak praktis. Karena itulah, makanan tinggi protein nabati
banyak menjadi pilihan.
Berdasarkan berita yang dilansir
Daily Mail, tren makanan di Amerika Serikat kini mengarah pada produk yang berembel-embel 'tinggi protein'. Susu atau bubuk protein serta
energy bar yang mengandung lebih dari 20 gram protein per penyajian cepat terjual, menggeser tren makanan tinggi serat dan rendah lemak.
Amanda
Perry, ibu dari seorang balita yang memiliki 2 pekerjaan, kini rajin
mengonsumsi protein dalam bentuk yang lebih praktis. Sebagai
personal trainer dan pemilik
gym, ia butuh banyak protein agar merasa kenyang lebih lama dan lebih berenergi.
Namun, hal ini sulit dilakukan dengan menyantap protein hewani seperti ayam atau
steak karena kesibukannya. "Saya sering mencampur bubuk protein dengan susu
almond, pisang, dan selai kacang agar mudah dibawa-bawa," kata Amanda. Ia hanya mengonsumsi
energy bar berprotein jika sedang lari dalam waktu lama, butuh
snack instan, serta saat sedang
bad mood.
Hal serupa juga dinyatakan oleh Mary Nanfelt, analis dari
IBISWorld. "Orang Amerika semakin peduli terhadap kesehatan dan semakin sibuk. Karena itulah penjualan
energy bar berprotein yang praktis dibawa jadi meningkat.
Snack ini sering dikonsumsi setelah berolahraga untuk membantu otot yang tegang," ujarnya.
Agar tidak bosan, produsen pun semakin kreatif membuat makanan cepat saji berbahan protein nabati. Misalnya,
almond
bubuk yang bisa diseduh dan diminum seperti susu, serta kedelai dan
kacang polong yang dibentuk menjadi pasta. Kacang-kacangan tinggi
protein dijual dalam bentuk bubuk dan
milkshake agar lebih mudah disajikan dan fleksibel.
Selain
alasan praktis, mengapa orang Amerika beralih dari daging sebagai
sumber protein? Menurut Phil Lempert, salah satu penyebabnya adalah
kenaikan harga daging. Hal ini ditambah dengan kekhawatiran akan daging
merah dan kandungan lemak jenuhnya.
"Orang-orang semakin pintar
memilih makanan. Dalam jangka panjang, mereka akan lebih memilih sayuran
dan kombinasi berbeda untuk menciptakan protein. Misalnya nasi dengan
buncis," ujar pakar pemasaran makanan ini.
Puncak popularitas
protein adalah saat diet Atkins menjadi tren beberapa tahun lalu. Kali
ini, pentingnya protein kembali digaungkan oleh Paleo Diet. Apalagi kini
semakin banyak bukti bahwa protein nabati dapat menurunkan kadar
kolesterol dan memiliki berbagai manfaat lain.
Protein hewani
seperti daging merah, unggas, ikan, telur, dan susu adalah protein
lengkap yang mengandung semua asam amino esensial yang dibutuhkan tubuh.
"Jika bisa, sebaiknya Anda mengonsumsi makanan secara normal (bukan
snack, red.), karena santapan tersebut mengandung macam-macam nutrisi
selain protein. Rasanya pun lebih enak," kata Margaret McDowell, ahli
gizi dari
National Institutes of Health.
Sementara itu,
sumber protein nabati seperti buncis, polong, kacang, padi, biji-bijian,
dan kedelai kurang lengkap asam amino esensialnya. Namun, hal ini bisa
diatasi dengan memvariasikan asupan protein nabati.
Sebenarnya,
sebagian besar orang Amerika sudah banyak mengonsumsi protein. Bahkan,
data 2007-2008 menunjukkan bahwa orang Amerika berlebihan mengonsumsi
protein, yakni sepertiga lebih banyak dari jumlah yang dibutuhkan. "Jadi
Anda tak perlu mengonsumsi protein sebanyak yang Anda pikirkan," ujar
Marisa Moore, pakar diet dari
Academy of Nutrition and Dietetics.
Sumber