Pages

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Berita Game. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Game. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Juli 2012

Preview Spec Ops – The Line: Bukan Game Third Person-Shooter Biasa


Mendapatkan pengalaman bermain yang baru dan unik dari sebuah genre yang umum di industri game memang bukan sesuatu yang mudah ditemukan saat ini. Lahirnya beberapa franchise raksasa yang berhasil mencapai kesuksesan luar biasa seolah menciptakan sebuah standar yang berusaha diikuti oleh para seri kompetitor yang lain. Akibatnya? Kita seringkali mendapatkan game-game dengan atmosfer dan desain yang hampir serupa satu sama lain, bahkan menimbulkan kesan monoton yang begitu kentara. Prasangka inilah yang menyelimuti kami ketika menjajal Spec Ops – The Line dari Yager Development dan 2K Games ini.

Kesan Pertama

Berusaha mencari sesuatu yang unik dari sebuah game third person shooter memang menjadi sesuatu yang terlalu muluk. Hampir semua game yang berasal dari genre ini jatuh pada atmosfer gameplay yang serupa satu sama lain, terlepas dari “identitas” unik yang mungkin dihadirkan dari desain karakter, plot, maupun senjata yang ada. Third person shooter selalu menuntut Anda untuk menghabisi setiap musuh yang ada, berlindung, dan melakukan aktivitas yang sama ini secara berulang kali. Hal baru apa lagi yang bisa disuntikkan di dalamnya? Kehadiran Spec Ops: The Line seolah membuka mata kami yang mulai “diselubungi” oleh prejudice yang satu ini. Spec Ops: The Line harus diakui merupakan sebuah seri game third person shooter yang istimewa.

Dalam jam-jam awal permainan, Spec Ops: The Line memang terlihat sebagai sebuah game third person shooter standar yang banyak ditemukan di pasaran. Ia hampir tidak menawarkan apapun yang baru. Mengambil konsep military shooter, dua hal yang mungkin menarik perhatian Anda adalah tingkat kesulitannya yang terhitung menantang dan setting yang dihadirkan. Selebihnya? Biasa. Visualisasi standar, gameplay standar, dan plot yang “klise”. Namun seiring dengan progress permainan Anda, Spec Ops: The Line seolah mematahkan semua anggapan ini. Ia akan menuntut Anda untuk berpikir, Ia akan menuntut Anda untuk memanfaatkan konsep moral dan hati nurani Anda, dan Ia akan menuntut Anda untuk berpikir daripada hanya sekedar menembakkan ratusan peluru secara membabi buta, dan pada akhrinya tampil sebagai sebuah game third person shooter yang tidak biasa.

Sesuatu yang belum pernah Anda temukan sebelumnya. Plotnya yang terhitung klise di awal juga perlahan namun pasti, menemukan bentuk solidnya seiring dengan progress permainan Anda.

Keunikan seperti apa yang dihadirkan? Sembari menunggu waktu yang lebih proporsional untuk melakukan review dan menjelajahi dunia Spec Ops: The Line lebih dalam, Anda bisa mendapatkan sedikit gambaran lewat screenshot fresh from oven di bawah ini.

 



Selasa, 26 Juni 2012

DLC Mass Effect 3 – Extended Cut Hadirkan Ending Baru!



Gelombang protes yang menyelimuti ending sebuah game memang bukan sebuah fenomena yang umum terjadi di industri game. Kecintaan, fanatisme, dan perasaan terikat pada sebuah franchise yang sudah menemani hidup gamer dalam waktu yang lama tentu menimbulkan tanggung jawab yang besar bagi developer untuk keinginan untuk mendapatkan cerita penutup yang terbaik. Kesalahan inilah yang harus diakui dilakukan oleh Bioware di Mass Effect 3. “Kesederhanaan” dan ketidakjelasan cerita pada tiga ending utama yang ditawarkan di seri penutup ini memang memicu reaksi ketidakpuasan. Tidak hanya sekedar petisi, beberapa gamer bahkan membawa masalah ini ke meja hijau. Bioware tampaknya sadar akan hal ini dan berjanji akan memperbaiki ending yang mereka tawarkan. Setelah menunggu cukup lama, implementasi ini akhirnya tercurahkan pada DLC terbaru ME 3 – Extended Cut.

DLC yang didistribusikan secara gratis ini memang sangat diantisipasi. Bagaimana tidak? Ia berpotensi menjadi jawaban atas berbagai misteri yang menyelimuti semua pilihan ending yang dijajal oleh gamer di Mass Effect 3. Sebelum Anda membaca lebih jauh, peringatan, artikel ini akan membuat SPOILER! Anda yang sudah memainkan ME 3 dan menamatkannya tentu menyadari bahwa hampir setiap ending, baik Control, Synthetic, maupun Destroy  selalu berakhir dengan terdamparnya Normandy di sebuah planet yang misterius. DLC Extended Cut memberikan 4 menit scene tambahan untuk memberikan penjelasan tentang apa yang terjadi setelahnya. Control akan mengambil sudut pandang Shepard yang telah menjadi The Reaper, Synthetic menceritakan kebahagiaan EDI yang kini menjadi makhluk setengah organic, serta Destroy yang diisi dengan cerita kepahlawanan Shepard dari mulut Admiral Heckett. Scene tambahan ini tentu saja menjadi “obat” penawar kekecewaan yang cukup mumpuni. Tidak cukup? Extended Cut juga menawarkan sebuah ending baru – REFUSAL.
Liara T’Soni menjadi narator untuk ending baru Mass Effect 3 – REFUSAL. 

Ending apa yang ditawarkan? Berhati-hatilah dengan SPOILER di paragraf selanjutnya!

Berbeda dengan Control, Destroy, dan Synthetic, Refusal memberikan sebuah arah ending baru yang memungkinkan Shepard untuk beragumen dengan Starchild – representasi dari penguasa The Reaper sendiri. Bertahan dengan idealismenya untuk tidak tunduk pada apapun keinginan The Reaper, Shepard memutuskan untuk membiarkan semesta hancur dan mengulang siklus kehidupannya yang baru. Tidak ada satupun makhluk hidup yang tersisa setelah Starchild memerintahkan Reaper untuk membumihanguskan semuanya.

Berakhir begitu saja? Tentu saja tidak. Ending ini memperlihatkan bagaimana rekaman yang memuat Liara T’Soni berhasil selamat dari serangan ini. Di dalamnya, Liara T’Soni menjelaskan tentang eksistensi The Reaper, ancaman yang ditimbulkannya, dan bagaimana membangun Crucible untuk membunuhnya. Inilah ending baru Refusal!

Beberapa gamer yang sudah menyelesaikan DLC ini juga telah merilis beberapa video ending ini untuk Anda nikmati, seperti yang kami tampilkan di bawah ini. Jika Anda termasuk gamer yang ingin merasakan ending baru ini sendiri, disarankan untuk tidak memainkan video di bawah ini. Bagaimana dengan Anda, terutama yang sudah menamatkan Mass Effect 3 sebelumnya? Apakah kehadiran extra scene dan ending baru ini cukup untuk membuat Anda puas?



Sumber

Kamis, 21 Juni 2012

Review Battlefield 3: Close Quarters (DLC)



Komitmen DICE dan Electronic Arts untuk terus memuaskan kebutuhan para gamer Battlefield 3 memang tidak perlu diragukan lagi. Setelah memberikan beragam map baru yang berfokus pada pertempuran epik dalam skala daerah yang super luas lewat DLC Back to Karkand, Battlefield 3 hadir dengan paket DLC baru – Close Quarters yang sudah dinikmati oleh para user Battlefield 3 Premium saat ini. Apa yang ditawarkan dalam pack yang satu ini? Sesuai dengan nama disandangnya, DLC Pack ini akan membuat pertempuran jarak dekat (tanpa kendaraan) menjadi jauh lebih sempurna lewat kedatangan beragam senjata, map, dan mode baru.

Dari semua map Battlefield 3 di versi original dan Back to Karkand, Operation Metro mungkin menjadi satu-satunya map yang memungkinkan Anda untuk saling bertukar peluru dalam ritme gameplay super cepat tanpa kehadiran kendaraan tempur sama sekali. Kekurangannya? Desain yang berada dalam garis lurus dengan “pintu masuk” yang terbatas membuat permainan berjalan kurang dinamis. Tim yang sudah menguasai beberapa titik krusial (apalagi dengan sniper yang sudah veteran) akan menguasai jalannya permainan.

Membalikkan keadaan? Butuh kerjasama tim yang sangat solid. Namun untuk 4 map terbaru Close Quarters, Anda tidak akan lagi menemukan “masalah” yang satu ini.

Selain menghadirkan beragam senjata yang lebih mumpuni, DLC Close Quarters juga menghadirkan tambahan 4 map baru: Donya Fortress, Ziba Tower, Operation 925, dan Scrapmetal. Menghadirkan atmosfer pertempuran yang sama cepatnya, keempat map baru ini seolah datang sebagai solusi atas “kelemahan” yang diperlihatkan oleh Operation Metro. DICE dan EA menghadirkan map yang jauh lebih terbuka, dengan lebih banyak daerah yang bisa dihancurkan dan dibobol, serta “jalan belakang” yang jauh lebih beragam. Ini tentu saja membuat permainan berjalan jauh lebih dinamis. Tidak ada lagi kesempatan untuk bertahan dan camping di satu tempat dan menekan secara total pihak lawan. Selalu ada kesempatan untuk meyerang balik.

Selain menghadirkan empat map baru ini, DICE juga menyuntikkan DLC Close Quarters ini dengan dua mode permainan baru yang memang didesain untuk memaksimalkan pengalaman bertempur secara jarak dekat: Conquest Domination dan Gun Master.

 Conquest Domination adalah mode Conquest yang diadaptasikan pada map yang lebih kecil, dimana Anda akan mendapatkan random spawn point daripada fixed seperti di map-map yang lebih besar.

Bagaimana dengan Gun Master sendiri? Ini adalah mode unik baru yang seolah didesain untuk menggabungkan elemen RPG dan FPS. Berbeda dengan mode Battlefield 3 yang lain, semua user di Gun Master akan berangkat dengan senjata yang sama dan tidak dapat berubah. Masing-masing dituntut untuk membunuh musuh dalam jumlah tertentu untuk mendapatkan level dan senjata yang lebih baik. Semakin banyak Anda menghabisi musuh, semakin kuat pula senjata Anda. Objektif utama? Mencari player yang berhasil mencapai setidaknya level 16 atau lebih tinggi. Sayangnya, mode ini menghadirkan kekurangan yang kami rasakan secara langsung. Jika Anda bergabung di tengah-tengah permainan dimana tim lawan sudah mencapai level tinggi dan mulai mendapatkan senjata yang bagus, you are pretty much screwed up! Butuh strategi khusus untuk mengejar ketertinggalan level sekaligus mencegah diri menjadi feeder bagi tim musuh.

Screenshot

Donya Fortress


Ziba Tower


Operation 925

Scrapmetal

Kesimpulan

Apa yang sebenarnya berusaha dicapai oleh DICE dan Battlefield 3 dengan DLC Close Quarters ini? Selain menghadirkan pengalaman yang lebih maksimal untuk basis fansnya yang setia, Close Quarters menjadi “senjata utama” untuk menarik para gamer FPS yang lebih familiar dengan dunia dan map yang ditawarkan oleh seri kompetitor – Call of Duty.

 Anda yang sudah pernah menjajal multiplayer COD pasti akan merasakan sensasi serupa yang kentara di Close Quarters ini. Anda akan lebih banyak berlari, mengitari posisi musuh, membunuh, berlari kembali, dan mencari target buruan Anda selanjutnya, sama seperti yang sering dilakukan oleh gamer FPS di multiplayer COD. Kelebihan yang ia tawarkan dibandingkan seri COD? Tentu saja lingkungan yang dapat hancur, varian senjata yang lebih banyak, dan serangan melee yang tidak sefatal COD. Jika Anda merupakan gamer yang selama ini selalu bertahan dengan COD karena mekanisme gameplay yang ia tawarkan di multiplayer, Close Quarters menjadi jawaban terbaik jika Anda berkeinginan untuk pindah haluan ke Battlefield 3.

Pantas atau tidakkah Close Quarters masuk sebagai DLC Battlefield 3? Jika Anda termasuk gamer yang lebih menikmati gameplay di Operation Metro sejak game ini dirilis, maka Close Quarters menjadi DLC yang sempurna bagi Anda. Anda akan dapat menikmati ritme pertempuran yang cepat dengan pertempuran yang berjalan lebih dinamis. Dengan senjata, map, dan dua mode permainan baru, tidak ada alasan untuk menolak Close Quarters yang satu ini. Namun jika Anda lebih mencintai sensasi pertempuran Battlefield dalam skala yang luas, maka Anda lebih baik bertahan dengan Back to Karkand dan mengacuhkan DLC yang satu ini.

DLC Close Quarters ini sendiri akan tersedia untuk gamer Battlefield 3 non-Premium pada 26 Juni mendatang dengan harga USD 15. Anda tertarik?


Sumber

Pages

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More