Pages

Senin, 30 Januari 2012

Histeria Korea!

detail berita
Personel 2PM (Foto: Google)

DEMAM budaya pop Korea di Indonesia semakin menggila. Tak cuma penikmatnya yang keranjingan, para pelaku di industri hiburan pun tak mau ketinggalan mengambil kesempatan.

Histeria paling terbaru bisa dilihat pada panjangnya antrean pembeli tiket Super Show 3D Super Junior di Blitmegaplex, Jumat (27/1). Antrean sudah mengular sejak pukul 10.00 WIB. Padahal, loket baru dibuka pukul 13.00 WIB. Bahkan, dalam pembelian tiket onlinenya pun, website sampai crash karena overload access.

Mundur dua bulan, ada konser 2PM, boyband Korea yang menggelar konsernya di Jakarta pada 11 November 2011. Dalam waktu 15 menit, 1.000 tiket yang tersedia secara online ludes terjual. Padahal, harga tiketnya relatif mahal, Rp500.000-Rp2 juta. Tiket yang dijual di loket juga bernasib sama. Saat konser digelar di Jakarta International Event & Convention Centre (JITEC) Mangga Dua Square, ruangan berkapasitas sekitar 5.000 orang ini pun nyaris terisi penuh. Banyak penonton rela bergaya ala gadis Korea demi penampilan total sebagai penggemar.

Soal antusiasme, para penggemar budaya pop Korea memang tak bisa dianggap remeh. Para penggemar fanatik sebuah band atau seorang aktor, misalnya, rela datang ke bandara dan membeli tiket termahal saat konser hanya demi melihat idolanya dari jarak terdekat. ”Kegilaan” ini bahkan tak cuma dilakukan penggemar yang masih remaja, juga yang berusia dewasa.

Linda, 36, misalnya. Dia selalu menonton setiap konser artis Korea di Jakarta. Tak sekadar menonton, dia nyaris selalu membeli tiket VVIP-nya. Saat konser F4 dan Rain,dia rela merogoh kocek hingga Rp3,5 juta. Saat konser KIMCHI (konser gabungan antara lima boyband dan girlband papan atas Korea), dia membeli tiket VIP seharga Rp2,5 juta. Begitu juga saat konser 2PM.

Saat fanmeeting dengan Kim Bum,dia juga membeli tiket VIP demi mendapat kesempatan foto bareng dan tanda tangan. Dia bahkan sudah membeli tiket konser Super Junior - Super Show 4 untuk konser di Singapura pada Februari. Harga tiketnya, Rp1,8 juta. Itu belum termasuk biaya akomodasinya selama di Singapura.

”Saya sampai rela enggak belanja pas Imlek demi konser ini. Padahal biasanya saya pasti belanja kalau Imlek,” cetus Linda.

Ketotalannya mencintai budaya pop Korea tak sampai di situ. Di kantornya, perempuan yang bekerja di bidang pariwisata ini bahkan sampai menggunakan alat tulis serba K-drama dan K-pop. Semuanya produk impor dan asli, dibelinya dari sebuah situs online. Meski sering diledek rekan-rekannya soal kegemarannya ini, dia tak peduli.

Demi memenuhi hasrat kecintaannya terhadap segala hal yang berbau Korea, Linda juga rajin menabung dan menyiapkan dana khusus.

”Setiap bulan, saya sisihkan dana Rp1 juta-Rp1,5 juta untuk beli CD K-pop dan DVD K-drama. Kalau ada konser, dana tentu saja membengkak menjadi Rp3,5 juta-Rp4 juta,” cetus Linda

Tahun 2013 mendatang, Linda berencana pergi ke Seoul. Bukan untuk liburan biasa, tapi ada agenda khusus menjemput Rain yang telah bebas dari wajib militernya.

”Saya sih enggak merasa terbebani dengan hobi ini. Lagian tiap orang kan punya kesenangan yang berbeda-beda. Jadi, kalau ada yang sinis, ya cuekin aja, ”celotehnya.

Sama dengan Linda, Rossa juga rela mengejar sampai Malaysia demi bisa menonton konser boyband idolanya, JYJ, pada tahun 2010.

”Memang saya ngefans banget sama mereka, dan mereka belum datang ke Jakarta. Jadi, ya kejar saja sampai ke sana,” ujarnya.

Film sampai Fashion

Masyarakat yang keranjingan budaya pop Korea tentu jadi lahan manis buat pelaku industri hiburan. Di televisi, ajang pembentukan boyband dan girlband ala Korea diminati kaum muda. Di dunia fashion, penata rambut terkemuka mulai Rudy Hadisuwarno sampai Johnny Andrean menyebut K-cut atau potongan rambut ala Korea dengan rambut ikal berkarakter atau lurus halus dan tampak natural, akan digilai pada tahun 2012. Di industri film, sederet film Korea atau K-movie siap menyerbu bioskop pada tahun ini.

Adalah Lotte Entertainment, perusahaan rumah produksi dan distribusi film dari Korea Selatan, yang akan menjadi pemain besar industri K-movie di Indonesia. Hadir di Indonesia sejak 2009, perusahaan ini sudah menyiapkan beberapa K-movie bergenre animasi dan apocalyptic (bencana besar) untuk tahun ini. Sebagai awalan, pada bulan Maret mendatang mereka akan merilis film animasi Leafie: A Hen into the Wild.

Menurut perwakilan Lotte Entertainment Oky Zayyd, demam budaya pop Korea di Indonesia memang membuat perusahaan ini akan semakin menambah kuantitas filmnya untuk masuk ke Indonesia.

”Bukan cuma Indonesia saja sebenarnya, juga di seluruh dunia. Film Leafie saja sudah masuk ke Amerika dan Inggris pada akhir tahun lalu,” katanya.


Sumber

0 komentar:

Poskan Komentar

Pages

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More