Pages

Selasa, 21 Februari 2012

Penyakit yang Muncul Sehabis Berpisah dari Pasangan

img
  Perceraian bukanlah perkara yang mudah dan tidak berisiko. Karena jika seseorang tidak siap, maka ia berisiko mengalami sindrom stres pasca perceraian (divorce stress syndrome) yang bisa mempengaruhi kesehatannya.

Peneliti dari Michigan State University, AS melakukan studi selama 15 tahun dan diketahui seseorang yang bercerai mengalami penurunan yang lebih cepat dalam hal kesehatan dibanding dengan orang yang tetap menikah.

Sementara itu studi lain menemukan laki-laki lebih berisiko mengalami masalah kesehatan jangka panjang setelah bercerai jika ia tidak menikah lagi, dan perempuan cenderung berisiko menderita lebih serius dalam jangka pendek karena tiba-tiba harus kehilangan status dan faktor emosional.

Salah satu risiko yang bisa dialami adalah divorce stress syndrome, meski masih sedikit yang mengakui tapi kondisi ini bisa mempengaruhi kesehatan. Beberapa ciri yang muncul dari sindrom ini adalah serangan panik, insomnia dan gangguan sakit punggung.

Orang yang baru saja bercerai akan melalui tahapan penyesuaian emosional yang sama seperti orang yang harus menerima kematian, yaitu emosi penolakan, kemarahan serta depresi. Untuk itu penting bagi wanita agar bisa menerima kondisi ini dan mampu melalui tahap transisi yang sulit serta mencari bantuan dan dukungan.

"Perceraian bisa mempengaruhi kita secara emosional, mental dan fisik. Mengakui perasaan ini dan menyadari bahwa Anda harus melalui proses transisi tersebut adalah cara yang baik untuk memulai. Setelah Anda memahami, maka Anda bisa menemukan jalan untuk mengatasinya," ujar Dr David Pastrana, seperti dikutip dari Dailymail, Selasa (21/2/2012).

Hampir sebagian besar orang mengalami gejala seperti stres, depresi, suasana hati yang rendah dan insomnia. Sekitar 60 persen juga menderita gejala fisik termasuk migrain, eksim dan ketegangan otot.

Sementara itu psikolog Dr James Lynch, stres psikologis meningkatkan kerusakan akibat radikal bebas (molekul tidak stabil yang menyerang sel sehat) dan diyakini berperan dalam penyakit jantung, kanker dan penyakit serius lainnya.

"Di bawah tekanan, tubuh memproduksi lebih banyak hormon kortisol yang membuat sistem kekebalan tubuh tidak stabil dan membuatnya kurang mampu melawan penyakit," ujar Dr Lynch.

Risiko sindrom ini lebih mungkin muncul jika perceraian yang terjadi akibat adanya perselingkuhan atau kematian yang membuat seseorang tidak siap dengan kondisi tersebut.

Selain itu masalah yang timbul tergantung dari usia saat bercerai, jika 30-an maka ia khawatir tentang bagaimana mengelola anak-anak, jika lebih dari 50 tahun maka ia cemas harus menjalani masa tuanya sendiri.


Sumber

0 komentar:

Poskan Komentar

Pages

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More