Pages

Selasa, 28 Februari 2012

Tumor Paru-paru 4,3 Cm pun Hilang (1)

img
Benny dan para dokter (dok: MCHG)
Jakarta, Banyak penderita tumor malas berobat karena kawatir efek sampingnya, termasuk rambut rontok. Namun berkat kemajuan teknologi, pasien asal Jakarta dengan tumor paru-paru sebesar 4,3 cm sembuh tanpa efek samping usai berobat di China.

Pasien tersebut adalah Benny (66 tahun), seorang manajer profesional di Jakarta yang sehari-hari mengurusi manajemen sumber daya manusia. Ia didiagnosis tumor paru-paru sejak Desember 2010, ketika mendadak jatuh dan mengalami perdarahan disertai gejala mual-muntah.

Beberapa kali ganti dokter tidak sembuh, akhirnya Benny disarankan untuk melakukan pemeriksaan PET-CT (Positron emission tomography-computed tomography). Dalam pemeriksaan yang memakai teknologi mutakhir ini, terlihat ada bayangan hitam lalu Benny dirujuk ke spesialis paru.

Hasil biopsi atau pemeriksaan jaringan yang dilakukan oleh dokter spesialis paru menunjukkan, Benny positif mengidap tumor atau daging tumbuh di dinding paru-paru. Jaringan tumor yang ditemukan saat itu ukurannya sudah cukup besar, yakni 3,6 cm.

Benny sempat patah semangat karena ukuran tumornya sudah begitu besar. Namun semangatnya bangkit lagi ketika mendengar cerita seorang teman dari kakak perempuannya, yang juga sudah 5 tahun mengidap tumor berukuran 3,2 cm namun akhirnya sembuh setelah berobat di Guangzhou-China.

Tidak mau menunggu lebih lama lagi, Benny memutuskan untuk berobat ke Guangzhou. Namun dalam 2 minggu pertama dirawat di Modern Cancer Hospital Guangzhou (MCHG), tumor yang diderita Benny sempat membesar hingga 4,3 cm sehingga makin mengkhawatirkan.

Dalam 4 minggu berikutnya, Benny menjalani 4 metode pengobatan tumor. Dikutip dari rilis yang diterima detikHealth, Selasa (28/2/2012), terapi pertama adalah pembekuan, dilanjutkan dengan terapi partikel iodium-125, terapi local minimal invasive dan diakhiri dengan imunisasi biologi moderen.

Hasilnya memuaskan, pemeriksaan dengan PET-CT di akhir pengobatan menunjukkan bahwa tumor yang diderita Benny sudah tuntas menghilang. Namun yang lebih menggembirakan, efek samping pengobatan yang harus ditanggung oleh Benny tidak separah kemoterapi.

Sebelumnya ketika sempat menjalani kemoterapi, Benny mengalami kerontokan hingga nyaris botak. Namun berkat terapi minimal invasive yang dikerjakan oleh Profesor Peng, rambut Benny kembali lebat dan berat badannya naik dari 79 kg saat kemoterapi menjadi 89 kg.

Sepulang dari Guangzhou, Benny juga cuma butuh waktu istirahat 1 hari sehingga produktivitasnya sama sekali tidak terganggu. Selanjutnya ia sudah bisa kembali ke aktivitas rutin seperti biasa, termasuk menjalani hobinya yakni berenang dan karaoke.



Sumber

0 komentar:

Poskan Komentar

Pages

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More