Pages

Selasa, 28 Februari 2012

Wanita Makin Panik Jika Melahirkan Didampingi Suami

img
Bagi banyak pria, melihat kelahiran anaknya adalah peristiwa yang sangat penting dan emosional. Namun, salah satu dokter kandungan terkemuka di Inggris mengatakan bahwa kehadiran ayah dapat menyebabkan istri yang melahirkan akan memerlukan operasi caesar, bahkan merusak pernikahan dan menyebabkan depresi.

Sang pakar spesialis persalinan, Michel Odent, juga berpendapat bahwa persalinan akan terasa lebih menyakitkan karena istri merasakan kecemasan sang suami sehingga menjadi gugup. Proses kelahiran bayi akan lebih mudah jika wanita ditinggalkan sendirian bersama seorang bidan.

"Lingkungan persalinan yang ideal tidak membutuhkan kehadiran manusia lain. Setelah menangani persalinan di rumah dan rumah sakit Perancis, Inggris dan Afrika selama lebih dari 50 tahun, saya mengetahui bahwa lingkungan terbaik untuk mempermudah proses kelahiran adalah tidak ada seorang pun di sekitar wanita selain bidan yang tenang, low-profile dan berpengalaman, tanpa dokter dan tanpa kehadiran suami ataupun orang lain," kata Odent dalam konferensi tahunan Royal College of Midwives di Manchester.

Menurut Odent, kehadiran suami selama persalinan menyebabkan kenaikan hormon adrenalin pada istri. Hal ini membuat istri menjadi tegang dan memperlambat produksi hormon oksitosin yang sangat penting untuk persalinan.

Jika tidak dapat melepaskan oksitosin, wanita tidak dapat melakukan kontraksi dengan efektif, dan persalinan menjadi lebih sulit, lebih lama, dan lebih menyakitkan. Karena keseimbangan hormon pada wanita terganggu oleh lingkungan, maka kehadiran suami ketika persalinan bukanlah hal yang tepat.

Odent menyebut fenomena kehadiran suami dalam persalinan sebagai 'maskulinisasi lingkungan kelahiran'. Fenomena ini membantu menjelaskan fakta bahwa 24% wanita di Inggris saat ini membutuhkan operasi caesar saat persalinan.

Odent, dokter Prancis yang juga menjalankan pusat penelitian tentang persalinan di London ini membeberkan fakta bahwa sejak 1950-an, makin banyak suami yang didorong untuk menghadiri proses persalinan. Wanita mulai banyak melahirkan di rumah sakit daripada di rumah dan ingin suaminya hadir mendukungnya. Penelitian menunjukkan bahwa para pria menghadiri atau mendampingi 90% proses kelahiran di Inggris. Namun, beberapa ahli tidak sependapat dengan Odent ini.

"Saya pikir Odent salah dan tidak mendasarkan argumennya pada bukti yang kuat. Tidak semua pria gugup dan banyak wanita akan lebih gugup tanpa kehadiran suaminya ketika persalinan. Istri menginginkan pasangannya di sana karena tempat itu bukanlah rumahnya," kata Duncan Fisher, kepala eksekutif situs Dad Info seperti dilansir The Guardian, Selasa (28/2/2012).

"Ada semacam perasaan di kalangan perempuan bahwa suaminya lah yang membuatnya hamil. Ia telah mengandung selama sembilan bulan dan sekarang harus melalui proses persalinan, sehingga setidaknya yang dapat dilakukan suami adalah menemaninya. Yang paling penting adalah bahwa wanita merasa aman dan didukung," kata Maria Newburn, dari National Childbirth Trust, organisasi pengasuhan terbesar di Inggris.

Odent mengatakan bahwa pria yang menyaksikan persalinan dapat merusak daya tarik seksual pasangan dan menyebabkan perceraian. Beberapa pria akhirnya menderita depresi setelah melihat proses persalinan.

Grace Thomas, konsultan bidan di dewan kesehatan Aneurin Bevan di Wales, telah mempelajari sikap calon ayah mengenai kehamilan. Penelitiannya menemukan bahwa ayah dapat mengalami gejolak emosional sebelum dan setelah kelahiran anaknya.

"Nampaknya profesi bidan telah mendorong para pria untuk menghadiri proses kelahiran anaknya tanpa memahami dampak kelahiran bagi mereka sendiri dan pasangan. Sangat penting untuk memahami psikologi keluarga dan cara terbaik adalah dengan membantu dan mempersiapkan ayah untuk menghadiri proses persalinan anaknya," kata Thomas.



Sumber

0 komentar:

Poskan Komentar

Pages

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More