Pages

Jumat, 27 Januari 2012

3 Kali Gagal Bayi Tabung, Ternyata Masalahnya di Suami

img
Jeanette & Mark (dok: dailymail)
Portsmouth, Inggris, Perawatan kesuburan kebanyakan berfokus pada perempuan, meski kadang penyebabnya dari laki-laki. Hal ini terjadi pada Jeanette yang 3 kali gagal mencoba IVF (bayi tabung), ternyata masalahnya ada pada pasangannya.

Mark Griffiths dan Jeanette Parker telah berusaha selama setahun untuk hamil, tapi tidak berhasil. Keduanya pun akhirnya ke dokter untuk berkonsultasi. Setelah menjalani serangan scan dan tes diketahui Jeanette (38 tahun) memiliki masalah lubang fallopi yang tersumbat. Ia pun menjalami 4 kali prosedur kecil untuk membersihkan sumbatan tersebut.

Sementara Mark (42 tahun) diketahui memiliki volume air mani yang kecil dan sperma itu sendiri bersifat asam. Namun dokter tidak menganggap hal itu sebagai sesuatu yang serius.

Jeanette pun menjalani 3 kali siklus IVF, meski ia sudah tersiksa dengan jarum-jarum yang harus disuntikkan dalam perawatan tersebut, namun ketiga prosedur IVF ini gagal. Bahkan salah satu saluran tuba falopinya harus diangkat yang membuatnya berisiko mengalami kehamilan ektopik (kehamilan di luar rahim).

Gagalnya proses IVF ini membuat dokter berpikir kemungkinan masalahnya ada pada sperma Mark. Setelah konsultasi dengan dokter spesialis kesuburan laki-laki diketahui saluran ejakulasi Mark mengalami penyumbatan, sehingga mencegah keluarnya air mani yang normal.

Kondisi ini kemungkinan dipicu oleh kista atau jaringan parut karena infeksi prostat yang bisa berkontribusi terhadap masalah infertilitas pria. Sebenarnya sperma asam adalah salah satu tanda dari penyumbatan ini. Mark pun akhirnya menjalani operasi untuk membersihkan sumbatan.

Namun tak mudah bagi pasangan ini untuk bisa hamil, terlebih setelah 1 tabung falopi Jeanette diangkat dan gagalnya 3 kali proses IVF yang memicu overstimulasi. Kondisi ini juga meningkatkan risiko kehamilan ektopik pada Jeanette.

"Ini adalah beberapa tahun yang sangat traumatis dan mahal untuk sesuatu yang tidak perlu dilakukan. Sejumlah dokter memberi kami nasihat yang salah dan gagal menemukan masalah saya. Hal ini sangat mengecewakan," ujar Mark, seperti dikutip dari Dailymail, Jumat (27/1/2012).

Mark menuturkan jika ia berhasil diobati sejak awal, maka Jeanette pasti memiliki kesempatan lebih besar untuk mengalami pembuahan yang alami dan tidak ada peningkatan risiko kehamilan ektopik.

Mark hanyalah salah satu dari ribuan pria yang memiliki masalah kesuburan terdiagnosis tapi tidak diobati. Selain itu klinik cenderung berfokus pada kesuburan perempuan dibanding pria. Akibatnya beberapa perempuan harus melakukan proses IVF yang melelahkan dan mahal, padahal tidak diperlukan.

"Pemeriksaan dan pengobatan yang berhubungan dengan kesuburan laki-laki sering tidak dilakukan secara menyeluruh, bahkan kadang tidak sama sekali," ujar Dr Rowland Rees, ahli bedah urologi dari Royal Hampshire County Hospital, Winchester.

Dr Rees menuturkan laki-laki bertanggung jawab terhadap setengah kasus ketidaksuburan, bahkan 20 persennya murni masalah laki-laki. Padahal sekitar 50 persen masalah kesuburan laki-laki bisa diobati, tapi sayangnya sering diabaikan.

"Memperlakukan atau mengobati infertilitas laki-laki bisa lebih murah, lebih sukses dan kurang invasif dibandingkan dengan perawatan pada perempuan," ujar Dr Rees.



Sumber

0 komentar:

Poskan Komentar

Pages

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More