Pages

Jumat, 03 Februari 2012

Banyak Anak Alami Kegemukan Karena Dipaksa Ngemil

img
Anak-anak biasanya rewel jika disuruh makan, sehingga banyak orangtua khawatir anaknya kurang gizi. Namun memaksa anak untuk makan meski hanya makanan ringan juga tidak baik, sebab banyak anak mengalami masalah kegemukan karenanya.

Menurut sebuah penelitian di Univeristy of Michigan, kecenderungan orangtua untuk memaksa anaknya makan terbukti meningkatkan risiko kegemukan. Akibatnya juga tidak bagus, sebab kegemukan dan kurang gizi sama-sama tidak baik untuk kesehatan anak.

Jika sering dipaksa oleh orangtuanya untuk makan, anak-anak akan kehilangan sinyal rasa kenyang. Lama-lama perutnya akan terbiasa untuk mengonsumsi makanan sebanyak-banyaknya, sehingga pada usia 3 tahun jadi lebih rentan untuk menghadapi masalah berat badan.

Tidak cuma untuk makanan utama, pemaksaan itu kadang terjadi juga saat memakan makanan ringan. Pada jeda waktu antara makan utama, orangtua biasa sering memberikan makanan ringan dan itu sering dilakukan secara berlebihan sehingga anak-anaknya cepat gemuk.

Kecenderungan itu dibuktikan saat para peneliti mengamati perilaku 1.218 orangtua dalam memberi makan anaknya. Pengamatan dilakukan di laboratorium sebanyak 3 kali, masing-masing saat anak-anak tersebut masih berusia 15 bulan, 2 tahun dan 3 tahun.

Dalam setiap pengamatan, para peneliti melihat perilaku orangtua dan juga mengukur berat badan anak-anak tersebut. Hasil pengamatan perilaku maupun pebngukuran berat badan itu kemudian dibandingkan di akhir penelitian, ketika anak-anak itu sudah berusia 3 tahun.

Tmpak dari hasil pengamatan, anak-anak yang sering dipaksa untuk makan oleh orangtuanya cenderung lebih gemuk saat berusia 3 tahun. Perbedaannya tidak terlalu besar, namun cukup menunjukkan adanya pengaruh dari perilaku para orangtua saat memberi makan.

"Jadi kebanyakan anak tidak mau makan, tapi para orangtua cenderung megnatakan, 'Ayo sayang, makan, makan, makan!'," kata Julie Lumeng yang memimpin penelitian itu dan mempublikasikannya di American Journal of Clinical Nutrition seperti dikutip dari Reuters, Jumat (3/2/2012).


Sumber

0 komentar:

Poskan Komentar

Pages

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More