Pages

Rabu, 08 Februari 2012

Gangguan Kecemasan pada Lansia Tidak Mempan Diterapi

img


  Terapi perilaku kognitif merupakan terapi andalan untuk mengobati gangguan kecemasan pada orang dewasa muda. Namun efek terapi tersebut hasilnya lebih rendah atau bahkan tidak mempan ketika diterapkan pada orang lanjut usia (lansia).

Gangguan kecemasan termasuk gangguan panik, fobia, stres pasca trauma dan gangguan kecemasan, umumnya terjadi pada orang dewasa di atas usia 55 tahun. Dalam Journal of American Geriatrics Society dinyatakan bahwa 3-14 dari setiap 100 orang lansia memiliki gangguan kecemasan.

"Asumsi yang ada selama ini adalah terapi untuk gangguan kecemasan dapat sama efektifnya pada berbagai usia," kata Rebecca Gould, seorang peneliti dari King College London seperti dilansir dari HealthNews, Rabu (8/2/2012).

Tapi nyatanya menurut Dr Eric Lenze, seorang profesor di Washington University School of Medicine efek terapi hasilnya lebih rendah ketika diterapkan pada lansia.

Terapi bicara yang disebut terapi perilaku kognitif digunakan untuk membantu orang dewasa untuk mengobati gangguan kecemasan sedikit lebih baik daripada pendekatan terapi lainnya. Namun nyatanya pada lansia, tidak seefektif jika diterapkan pada orang dewasa muda.

Sementara studi sebelumnya telah menunjukkan bahwa terapi perilaku kognitif bekerja dengan baik untuk orang dewasa muda dan setengah baya. Namun, sebelumnya belum ada banyak penelitian mengenai pengobatan gangguan kecemasan pada lansia.

Terapi perilaku kognitif sering melibatkan pertemuan secara pribadi dengan terapis dengan tujuan akhir untuk menyelesaikan proses berpikir yang cacat yang menyebabkan gangguan tersebut. Rata-rata dalam studi, peserta penelitian melalui 12 sesi terapi.

Dibandingkan dengan jika tidak menjalani terapi sama sekali, terapi perilaku kognitif memiliki efek sedang untuk membantu mengobati kecemasan. Dibandingkan dengan obat atau diskusi kelompok, terapi perilaku kognitif memiliki efek sedikit lebih baik. Tim peneliti mencatat perbaikan atas perlakuan lainnya cukup kecil.

"Terapi mungkin bekerja lebih baik dibandingkan obat karena berusaha untuk memperbaiki penyebab kecemasan bukan gejalanya. Jika dapat mengatasi penyebab dari gejala kecemasan, misalnya dengan mengubah cara berpikir mengenai sesuatu atau menafsirkan suatu hal, maka dapat menghentikan kecemasan datang lagi di masa depan. Jika hanya mengatasi gejala kecemasan maka suatu saat kecemasan tersebut dapat muncul kembali. Tidak diketahui mengapa terapi tampaknya kurang efektif pada lansia, tetapi mungkin karena terapi bicara dapat memakan waktu lebih lama untuk lansia," kata Gould.

Studi lebih lanjut masih diperlukan untuk menemukan terapi yang cukup efektif untuk lansia. Tim peneliti Gould telah merencanakan sebuah studi yang mengeksplorasi manfaat dari pemikiran berbasis terapi kognitif, yang mencakup terapi seperti meditasi.


Sumber

0 komentar:

Poskan Komentar

Pages

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More