Pages

Kamis, 09 Februari 2012

Nenek Sembuh dari Pikun Setelah Cairan Otaknya Dikeluarkan

img
Carole (dok: Dailymail)
Oxon, Inggris, Seorang nenek di Inggris berusia 74 tahun mengalami demensia atau kepikunan. Penyakit ini umum menyerang orang-orang berusia 60 tahun ke atas. Namun ternyata, dokter mendiagnosisnya dengan hidrosefalus, penumpukan cairan otak.

"Saya sering berjalan dan kemudian terjatuh hingga mengalami memar yang cukup parah, tapi tidak pernah menceritakan kepada siapa pun. Berjalan saya menjadi lebih lambat. Ada lagi yang lebih memalukan, saya tidak bisa sampai ke toilet pada waktunya," kata Carole dari Oxon, Inggris.

Gejala demensia Carole tersebut dimulai pada tahun 2006, ketika berusia 67 tahun. Ia tersandung di pinggir jalan sambil membawa beberapa belanjaan dan mematahkan tulang iganya. Karena ia begitu malu dan kesal, ia tidak memberitahu siapa pun, bahkan perawatnya

"Saya dibawa ke rumah sakit karena memar. Setelah itu, enam orang petugas kesehatan datang ke rumah saya selama seminggu. Mereka mengatakan bahwa saya mengalami demensia. Mereka mengajari dan mencoba memberitahu saya bagaimana menyeberang jalan dengan aman dan bagaimana menepi ketika berada di jalan, seolah-olah Saya sudah lupa bagaimana melakukannya," kata Carole.

Tiga bulan setelah menjalani fisioterapi, janda dengan dua anak ini pergi ke dokter untuk mencari penjelasan. Dokter menjelaskan bahwa gaya berjalan Carole lebar dan tidak dapat menjaga lututnya berdekatan satu sama lain. Dokter kemudian ingin merujuk Carole ke ahli saraf untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Hasil pemeriksaan menunjukkan ada kemungkinan Carole mengalami hidrosefalus. Hidrosefalus adalah peningkatan cairan otak yang abnormal. Cairan yang terbentuk mempengaruhi fungsi otak, menyebabkan gejala seperti gangguan berjalan, serta gangguan berpikir seperti kehilangan ingatan, kebingungan dan beser.

Dokter mendiagnosis bahwa Carole mengalami hidrosefalus tekanan normal, namun penyebabnya tidak diketahui. Ia kemudian segera dirawat dam diopname di rumah sakit selama tiga hari. Cairan otaknya dikeringkan lewat tabung kecil.

"Dari tiga gejala, gangguan berjalan adalah satu yang selalu muncul. Masalah mental dan beser biasanya menyertai, tetapi tidak selalu," ujar Richard Edwards, konsultan ahli bedah saraf di Rumah Sakit Frenchay di Bristol seperti dilansir DailyMail, Kamis (9/2/2012).

Hidrosefalus disebabkan terjadinya kerusakan pada otak setelah mengalami cedera kepala atau kondisi seperti stroke, perdarahan otak, tumor otak atau meningitis. Kondisi ini paling umum dialami pada orang berusia 60 tahun atau lebih. Gejala tersebut juga merupakan tanda-tanda klasik dari kondisi lain, seperti Alzheimer atau penyakit Parkinson, sehingga sering kali salah didiagnosa.

Dengan diagnosa yang tepat, gejala semacam hidrosefalus ini dapat dikurangi atau disembuhkan, dan pasien dapat berjalan normal lagi serta pulih dari gangguan ingatan dan beser tersebut.

"Sekitar 80 % dari orang yang diobati akan mengalami perbaikan klinis. Hasilnya bervariasi dari perbaikan ringan hingga sembuh total," kata Edwards.

Pengobatan yang paling umum adalah dengan menyisipkan sebuah shunt (tabung kecil dan katup) ke otak melalui lubang kecil di tengkorak selama 30 menit di bawah pembiusan total. Shunt menguras kelebihan cairan dari otak dan dialihkan ke dalam aliran darah.

Pasien biasanya menjalani tes pengeringan. Sebuah jarum halus digunakan untuk mengalirkan cairan dari otak dan tulang belakang selama lebih dari dua atau tiga hari untuk melihat apakah gejalanya membaik.

"Setelah tiga hari, dokter meminta saya berjalan melintasi ruangan, dan saya berdiri dan dapat berlari. Saya merasa luar biasa. Saya bisa berjalan cepat dan lurus dengan mudah. Padahal sebelumnya saya merasa lambat dan sangat berliku-liku ketika berjalan," kata Carole.

Dalam enam bulan, gejala penumpukan cairan muncul lagi, dan Carole akhirnya harus dioperasi pada bulan April 2008. Ia berada di rumah sakit selama 24 jam dan efeknya langsung terasa. Ia bisa berjalan cepat dan lurus sekali lagi dan berhenti mengalami beser.

"Sekitar 50 % pasien mungkin mengalami kambuh setelah satu tahun, tetapi pada beberapa orang manfaatnya bisa bertahan beberapa tahun. Kami dapat mengoperasi siapa saja yang cocok, walaupun usianya 60 atau 90 tahun. Tidak ada kata terlambat," kata Edwards.



Sumber

0 komentar:

Poskan Komentar

Pages

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More