Pages

Rabu, 08 Februari 2012

1 dari 10 Orang di AS Ragukan Siapa Ayah Kandungnya

img
  Jauh lebih mudah mengidentifikasi ibu kandung, sebab kadang-kadang status ayah kandung hanya bisa diketahui lewat tes DNA. Di Amerika Serikat, 1 dari 10 orang merasa butuh melakukan tes tersebut karena meragukan siapa ayah kandungnya.

Menurut sebuah survei yang dilakukan oleh Inspire Research, 12 persen laki-laki dewasa di Amerika Serikat tidak yakin bahwa ayah yang mengasuhnya benar-benar ayah kandungnya. Sementara di kelompok perempuan, 10 persen responden merasakan keraguan yang sama.

Sebanyak 20 persen responden dari semua jenis kelamin mengaku mempertanyakan hal itu karena pernah ditanyai oleh kerabat lain, lalu ikut kepikiran. Sebagian lagi mempertanyakan karena merasa butuh tahu, jika sewaktu-waktu terjadi masalah dalam rumah tangga misalnya orangtua bercerai.

Karena survei ini didanai oleh perusahaan alat tes DNA (Deoxyribo Nucleic Acid), maka para responden juga ditanyai seberapa pentingnya tes DNA. Sebagian besar menganggapnya penting, sebab tes tersebut adalah satu-satunya cara untuk memastikan siapa ayah kandungnya.

Survei yang dilakukan pada Desember 2011 ini didanai oleh Identigene, perusahaan alat tes DNA asal Utah yang telah menjual lebih dari 1,5 juta produknya sejak 2008. Jumlah responden yang dilibatkan cukup banyak, yakni mencapai 1.039 orang.

Meski demikian, sebagian ahli memperkirakan sebagian besar dari keragu-raguan itu tidak akan terbukti saat dilakukan tes DNA. Setidaknya, jumlah orang yang salah asuh karena tidak diasuh oleh ayah biologisnya sendiri jauh lebih sedikit daripada jumlah orang yang mengkhawatirkannya.

Di negara barat, diperkirakan hanya 1-4 persen orang dari seluruh populasi yang diasuh bukan oleh ayah kandung akibat kesalahan mengidentifikasi ayah biologis. Angkanya di Amerika Serikat diperkirakan berkisar 2-4 persen, atau 2 kali lebih banyak dari Eropa.

"Amerika Serikat lebih tinggi karena banyak orang tinggal bersama tanpa ikatan dan banyak perceraian. Dengan kata lain, banyak anak lahir di luar nikah," kata Prof Michael Gilding dari Swinburne Institute, seperti dikutip dari MSNBC, Rabu (8/2/2012).



Sumber

0 komentar:

Poskan Komentar

Pages

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More