Pages

Senin, 12 Maret 2012

3 Jenis Vitamin Populer yang Bisa Membahayakan Kesehatan

img


  Vitamin telah dipuja-puja sekian lama sebagai zat yang sangat bermanfaat bagi kesehatan. Perusahaan-perusahaan obat pun beramai-ramai mengeluarkan produk suplemen vitamin yang sampai sekarang masih diyakini manfaatnya. Nyatanya, beberapa jenis vitamin justru bisa berakibat buruk bagi tubuh.

"Ada 50 penelitian berskala besar mengenai suplemen, dan tidak satu pun yang menunjukkan manfaatnya untuk mengatasi penyakit jantung atau kanker. Saya tidak mengerti, mengapa banyak orang masih meminum vitamin ini?" kata David Agus, dokter dan penulis buku 'The End of Illness' yang juga menjabat sebagai direktur Pusat Pengobatan Molekuler Terapan University of Southern California dan direktur Westside Norris Cancer Center di University of Southern California.

Beberapa dokter lainnya juga mengibaratkan membeli vitamin itu seperti membuang uang ke dalam toilet. Sebab, jika tubuh mendapatkan vitamin tertentu lebih dari yang diperlukan, tubuh akan mengeluarkan kelebihannya lewat urin. Dalam setahun, warga Amerika menghabiskan sekitar 28 miliar US Dolar atau sekitar 256.8 triliyun untuk membeli suplemen makanan, termasuk vitamin dan suplemen herbal.

"Bahkan beberapa orang rela menghabiskan uangnya yang justru dapat meningkatkan risiko kesehatannya sendiri tanpa disadari. Kebanyakan orang berpikir meminum banyak suplemen akan lebih baik, tapi lain halnya dengan vitamin," kata Dee Sandquist, ahli diet dan juru bicara Academy of Nutrition and Dietetics di Amerika Serikat.

Seperti dilansir US News, Senin (12/3/2012), berikut adalah tiga suplemen vitamin terpopuler yang justru bisa berbahaya bagi tubuh.

Suplemen vitamin E
Banyak orang meyakini bahwa vitamin E ampuh untuk mencegah kanker. Pada tahun 2001, National Cancer Institute di Amerika Serikat melakukan penelitian untuk menguji apakah vitamin E dapat menurunkan risiko kanker prostat. Namun temuan mengungkapkan bahwa pria yang mengkonsumsi vitamin E justru memiliki kemungkinan 17 persen lebih tinggi terserang kanker prostat.

Vitamin E merupakan faktor kunci dalam fungsi kekebalan tubuh dan komunikasi sel. Vitamin ini paling bagus diperoleh dalam makanan seperti biji gandum, biji bunga matahari, dan brokoli. Namun efeknya akan memburuk jika diminum secara teratur dalam dosis tinggi. Seperti halnya banyak vitamin lain, vitamin E akan kehilangan manfaatnya jika diminum berlebihan.

Vitamin A
Vitamin A baik untuk menjaga ketajaman penglihatan dan ditemukan pada produk hewan dan nabati. Vitamin A juga penting untuk kesehatan reproduksi, kesehatan tulang, dan fungsi kekebalan tubuh. Suplemen vitamin A penting bagi orang pengidap penyakit yang menghambat penyerapan lemak, seperti penyakit celiac, penyakit Crohn, dan gangguan pankreas.

Kelebihan vitamin A dapat berubah menjadi racun di dalam tubuh. Meminum vitamin A lebih dari yang dibutuhkan tubuh dari waktu ke waktu dapat menyebabkan penyakit hati yang serius, cacat lahir, dan gangguan sistem saraf pusat.

Jenis vitamin A yang disebut beta-karoten juga diduga membantu mencegah kanker, tapi hanya jika diperoleh lewat makanan. Dalam bentuk pil, beta karoten justru berbahaya. Penelitian menemukan bahwa pria perokok yang mengkonsumsi suplemen beta-karoten memiliki kemungkinan 18 persen lebih besar mengalami kanker paru-paru dan memiliki kemungkinan 8 persen meninggal.

Gerard Mullin, direktur layanan integratif nutrisi pencernaan di Rumah Sakit Johns Hopkins dan penulis buku 'The Inside Tract: Your Good Gut Guide to Great Digestive Health' telah banyak merawat pasien yang terserang kerusakan hati karena overdosis vitamin A. Menurutnya, banyak orang yang tidak tahu bahwa overdosis vitamin A bisa berbahaya. Pasien-pasiennya itu sempat berpikir bahwa vitamin A dapat melawan infeksi.

Vitamin C
Vitamin C diyakini ampuh melawan infeksi. Berbagai suplemen dan tablet hisap vitamin C telah menjadi konsumsi yang umum di masyarakat. Padahal, fungsi perlindungan dalam sistem kekebalan tubuh hanya diperoleh dari vitamin C yang alami. Dasar ilmiah yang mendukung penggunaan suplemen vitamin C secara rutin untuk mengatasi pilek sangat lemah. Tidak ada bukti bahwa vitamin C dapat mencegah pilek.

Tidak seperti vitamin A, vitamin C larut dalam air. Artinya, jika mengkonsumsi lebih dari yang dibutuhkan tubuh, kelebihannya dapat dikeluarkan tanpa menyebabkan maslaah. Namun beberapa efek samping seperti diare, kram perut, dan mual dapat terjadi.

"Pada dosis cukup tinggi, vitamin C bisa menyebabkan batu ginjal. Asupan vitamin C lebih dari 500 miligram per hari sudah cukup untuk dapat menimbulkan masalah. Jumlah ini hanya setengah dari produk 1 gram vitamin C. Kasus ini memang jarang terjadi, tetapi pernah ada," kata Mullin.

Asupan harian maksimum vitamin paling baik diperoleh dari kombinasi makanan dan suplemen. Meminum lebih dari jumlah yang direkomendasikan akan menyebabkan gangguan kesehatan yang lebih besar dibandingkan manfaatnya.


Sumber

0 komentar:

Poskan Komentar

Pages

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More