Pages

Senin, 12 Maret 2012

Pasien Kanker Jarang Gunakan Obat Penghilang Rasa Sakit Opioid

img


Meskipun menderita sakit parah, sekitar 1 dari 3 pasien kanker yang lebih tua tidak mengonsumsi opioid, yang merupakan analgesik paling ampuh. Tidak jelas mengapa pasien tersebut tidak mengonsumsi opioid, termasuk morfin, oxycodone dan fentanil.

Bisa jadi dokter tidak meresepkan obat atau bahwa pasien mendapatkan resep, tetapi tidak mengonsumsi obat tersebut. Hal tersebut merupakan hasil yang dilakukan oleh para peneliti dari Kanada.

"Mereka tidak harus kesakitan. Ada pengobatan yang efektif yang telah tersedia," kata Dr Paul Glare, seorang kepala bagian Pain and Palliative Care Service di Memorial Sloan Kettering Cancer Center, New York seperti dilansir dari HealthNews, Senin (12/3/2012).

Para peneliti mengumpulkan informasi lebih dari 2 tahun pada semua pasien kanker di atas usia 65 tahun di Ontario, Kanada yang telah di-skrining. Sekitar 20 persen dari lebih dari 24.000 orang terlibat dalam penelitian melaporkan bahwa, telah merasakan rasa sakit parah.

Tim peneliti mengamati berapa banyak dari peserta penelitian yang mendapat resep dengan obat penghilang rasa sakit opioid, juga dikenal sebagai narkotika. Sepertiga dari kelompok yang mengalami rasa sakit yang parah, tidak mendapatkan resep opioid.

Pasien wanita dan pasien yang lebih tua kurang mungkin telah mendapatkan resep dari pasien yang lebih muda atau pasien laki-laki. Orang di atas usia 85 tahun, 30 persen lebih rendah untuk memiliki pengobatan nyeri dengan opioid daripada orang dengan usia antara 64-74 tahun.

Para wanita dalam penelitian ini sekitar 14 persen lebih rendah untuk memiliki resep opioid daripada pria. Salah satu alasan bahwa pasien mungkin tidak mendapatkan resep tersebut karena hambatan seperti biaya atau tidak memiliki asuransi kesehatan atau tidak memiliki akses ke pusat perawatan kesehatan.

"Tidak masalah karena semua orang dalam studi ini dijamin oleh pemerintah dan didanai asuransi kesehatan yang membayar untuk obat-obat tersebut. Selain itu, semua pasien juga berinteraksi dengan pusat layanan kesehatan. Mungkin hal tersebut disebabkan oleh pengetahuan dokter tentang manajemen nyeri, dan kesediaan untuk mempelajari lebih dalam laporan pasien dari rasa sakit yang signifikan, atau mungkin pengetahuan tentang penggunaan obat-obat tersebut yang menyebabkan dokter tidak meresepkan obat-obat tersebut," kata Dr. Lisa Barbera, pemimpin tim peneliti yang melaporkan dalam Journal of Clinical Oncology.

"Obat tersebut masih harus diresepkan untuk pasien yang lebih tua, tetapi perlu dipantau lebih dekat, dan mungkin beberapa dokter yang sibuk tidak bersedia meluangkan waktu ekstra. Beberapa dokter mungkin juga kurang bersemangat untuk meresepkan narkotika karena laporan tentang penyalahgunaan atau kelebihan dosis," kata Dr Glare.

Hasil penelitian tersebut juga dapat termasuk pasien telah ditawari resep opioid untuk meringankan rasa sakit, tetapi yang tidak ingin mengonsumsi obat tersebut karena takut efek samping, kecanduan atau stigma dalam mengonsumsi narkotika.

Pasien tidak perlu takut minum obat rasa sakit yang mengandung opioid, jika telah diresepkan dengan aman dan efektif.



Sumber

0 komentar:

Poskan Komentar

Pages

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More