Pages

Jumat, 02 Maret 2012

Gangguan Kehamilan yang Bisa Bikin Ibu dan Bayi Meninggal

img
Jakarta - Sebagian besar kehamilan dan kelahiran berlangsung tanpa adanya gangguan besar dan menghasilkan bayi yang cukup bulan yang sehat. Namun, masalah bisa saja muncul pada wanita sehat masa kini, yang dapat membahayakan baik kesehatan ibu maupun bayi.

Sebagian kecil kelainan kehamilan dan persalinan menimbulkan gangguan fisik menetap pada ibu atau bayi. Berikut gangguan kehamilan dan persalinan yang bisa mengancam nyawa ibu dan bayi seperti dikutip dari The Human Body Book karangan Steve Parker yang diterbitkan Erlangga, Jumat (2/3/2012):

img
1. Kehamilan Ektopik
Kehamilan ektopik adalah kehamilan yang terjadi di luar uterus, biasanya dalam tuba faloppi. Sekitar 1 persen kehamilan adalah ektopik yang sering terjadi pada wanita di bawah usia 30 tahun.

Telur yang dibuahi tidak tertanam dalam lapisan uterus, tetapi berkembang di tuba faloppi atau lebih jarang lagi, di daerah lain. Perkembangan embrionik normal tidak mungkin terjadi dan biasanya gagal. Embrio harus diangkat dengan pembedahan untuk mencegah pecahnya tuba faloppi dan pendarahan dalam tubuh.

img
2. Pre-Eklamsia
Tekanan darah tinggi dan retensi cairan adalah ciri khas kelainan kehamilan ini. Kelainan pre-eklamsia yang terjadi pada 5-10 persen kehamilan, sering ditemukan di minggu-minggu terakhir sebelum kelahiran.

Ciri khasnya meliputi tekanan darah tinggi, retensi cairan dan protein dalam urine. Pre-eklamsia biasanya mudah ditangani, tetapi jika tidak diketahui dapat berlanjut menjadi kelainan berbahaya yang disebut eklamsia, menimbulkan sakit kepala, gangguan penglihatan, kejang dan akhirnya koma.


img
3. Gangguan Plasenta
Gangguan fungsi atau letak plasenta sebelum persalinan disebut gangguan plasenta. Dua masalah utama yang dapat mempengaruhi plasenta: plasenta previa, yaitu plasenta menutup jalan keluar serviks dari uterus dan abrupsi plasenta, yaitu plasenta terpisah dari dinding uterus.

Plasenta previa total adalah kelainan serius ketika serviks tertutup seluruhnya oleh plasenta. Bentuk yang lebih ringan meliputi plasenta rendah yang hanya sebagian menghalangi pintu keluar uterus.

img
4. Keguguran
Juga disebut abortus spontan, keguguran adalah berhentinya kehamilan tanpa disengaja sebelum minggu ke-24. Keguguran sering terjadi, sekitar 25 persen dari seluruh kehamilan.

Sebagian besar keguguran terjadi di 14 minggu pertama kehamilan dan lebih dari separuh kasus disebabkan oleh kelainan abnormal genetik atau janin. Keguguran yang berikutnya memiliki berbagai penyebab, gangguan fisik serviks atau uterus sampai ke infeksi berat. Merokok, alkohol, atau penyalahgunaan obat adalah berbagai faktor penyebabnya.

img
5. Polihidramnion
Kelainan ini timbul jika cairan amnion berlebih mengelilingi janin dalam uterus. Pada polihidramnion, cairan amnion berlebih menimbulkan rasa nyeri atau rasa tidak nyaman pada perut.

Gangguan ini dapat bersifat kronik. Cairan terkumpul perlahan setelah minggu ke-32 atau bersifat akut, yaitu kelainan terjadi hanya beberapa hari dari sekitar usia 22 minggu. Bentuk akut dapat dihubungkan dengan kembar identik.

img
6. Posisi Bayi Tidak Normal
Semua posisi bayi yang tidak dalam posisi kepala menghadap ke belakang dalam persalinan dianggap tidak normal. Sekitar 80 persen bayi memiliki posisi normal untuk kelahiran dengan kepala di bawah dan menghadap punggung ibu. Bayi biasanya mencapai posisi ini pada minggu ke-36.

Posisi lain mungkin bisa mengganggu persalinan. Bayi sungsang dan oksipitoposterior adalah posisi tidak normal yang sering ditemukan. Pada persalinan sungsang, pantat bayi keluar pertama kali.

img
7. Persalinan Prematur
Persalinan yang mulai sebelum minggu ke-37 kehamilan disebut persalinan preterm atau prematur. Sebagian besar kehamilan berlangsung sekitar 40 minggu, tetapi persalinan dalam tiga minggu terakhir dianggap cukup bulan.

Persalinan prematur jarang menimbulkan masalah bagi ibu, tetapi semakin awal kelahiran, semakin banyak masalah yang dialami bayi. Penyebabnya tidak selalu jelas, tetapi kelahiran multipel, polihidramnion, dan infeksi saluran kencing adalah faktor pemicu yang telah diketahui.



Sumber

0 komentar:

Poskan Komentar

Pages

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More