Pages

Sabtu, 11 Februari 2012

Game Bajakan Indonesia Jadi Fokus Media Luar Negeri


Gamer Indonesia boleh dibilang sebagai salah satu gamer yang paling “beruntung” di dunia. Lemahnya penerapan hukum di negara tercinta ini membuat banyak celah yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan yang ilegal. Salah satu yang paling marak tentu saja adalah pembajakan. Sebagian besar pusat perbelanjaan di Indonesia bahkan secara terbuka menjual produk-produk ilegal ini, dari musik, film, hingga video game terkini. Untuk produk yang terakhir, ia menjadi semacam berkah terselubung bagi gamer Indonesia. Menjadi sesuatu yang luar biasa sulit untuk tidak jatuh dalam “godaan”nya.

Bagi sebagian besar kita, pembajakan seperti ini sudah menjadi bagian hidup yang seolah tidak terpisahkan. Sementara bagi gamer yang tinggal di luar Indonesia, pembajakan memiliki posisi yang jelas dalam hukum, tidak abu-abu, dan menyalahi etika. Tidak heran jika beberapa media luar negeri mulai berfokus menyorot permasalahan ini. Media online besar di dunia game seperti Kotaku dari Amerika dan Game Impress Watch dari Jepang menunjukkan kepada dunia bagaimana gamer Indonesia dapat secara bebas menikmati game-game bajakan ini. Mereka juga membicarakan harga game yang hanya 2 Dollar Amerika (Rp 20.000,-), 1/25 harga game original. Lantas bagaimana respon pembaca luar negeri tentang hal ini?

Game bajakan yang menjadi fokus

Pendapat beberapa gamer luar negeri di situs Kotaku

Sebagian besar gamer di luar tampaknya bingung dengan tindakan gamer Indonesia yang gemar membeli game bajakan ini. Beberapa mempermasalahkan soal daya tahan disc bajakan yang buruk, yang lainnya mempertanyakan kepuasan yang dihasilkan dari mengoleksi sebuah game bajakan. Namun ada juga komentator yang berusaha “memaklumi” tindakan ini untuk negara-negara berkembang. Menurutnya, di negara berpendapatan rendah, ini menjadi satu-satunya alternatif yang ada untuk dapat memainkan sebuah game baru. Mengapa? Karena harga game original yang dirilis bisa mencapai 1/6 total pendapatan rata-rata pekerja awal di Indonesia.

Memang sulit untuk memilah dan menempatkan pembajakan dalam posisi yang pasti di Indonesia. Di satu pihak, ia memang ilegal, namun di sisi yang lain, ia terus hidup karena tingginya permintaan dan kebutuhan gamer di Indonesia. Namun seperti yang pernah saya sampaikan sebelumnya, saya pribadi setuju dengan pendapat yang pernah diutarakan oleh Rovio sebelumnya. Sudah saatnya pembajakan dilihat sebagai usaha gamer untuk memainkan game-game favoritnya seperti seorang fans pada musik yang dicintainya. Untuk “memaksa” gamer membeli game original, developer bisa membangun konten eksklusif dan berbeda. Dari sisi gamer? Jika kita memiliki penghasilan yang cukup, maka lebih etis jika kita membeli versi original dari game yang kita benar-benar cintai. Untuk apa? Untuk memastikan sang developer menghasilkan karya selanjutnya yang tidak kalah berkualitas.

Please, sir.. Spare some coins for original game..

Pertentangan antara gamer yang setuju dan menentang pembajakan memang menjadi pertempuran “ideologi” seperti yang pernah disampaikan Joker pada Batman di “The Dark Knight”: When an unstoppable force meets an immovable object.. Bagaimana dengan pendapat Anda?



Sumber

0 komentar:

Poskan Komentar

Pages

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More